• Daftar
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Mealist

Ingin tau tlebih cepat mengetahui perkembangan agenda yang akan kami laksanakan? Masukkan nama dan email anda yang masih aktif
Interpreanership



September 2010
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

You are here: Home

Pesantren Nusantara, Membina Kemandirian Ekonomi Pesantren

KEBANGKITAN NASIONAL; DAN LANGKAH KEMANDIRIAN BANGSA

KEBANGKITAN NASIONAL;
DAN LANGKAH KEMANDIRIAN BANGSA
Oleh; Aris Adi Leksono

Beberapa waktu lalu, presiden SBY dalam pidato kenegaraannya menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2008 telah mengalami pertumbuhan sebesar 6%., baik pada tingkat analisis makro, mikro, dan sektor riil. Meskipun masih perlu dimaksimalkan, kondisi tersebut menurut SBY adalah suatu prestasi bagi bangsa Indonesia, di tengah-tengah krisis minyak dan krisis pangan dunia.

Terlepas apakah benar?, ataukah salah analisis tersebut, tentu tidak semudah itu dinilai, tetapi yang perlu menjadi catatan, benarkah pertumbuhan ekonomi  tersebut bisa sampai ”meresap” dan dirasakan oleh masyarakat kelas bawah, ataukah hanya dinikmati oleh sekelompok pengusaha dan konglomerat elite yang lebih mengedepankan prinsip pragmatisme dan subyektifisme saja, sehingga mengeliminir nilai-nilai solidaritas sosial kemasyarakatan.

Dengan pertumbuhan tersebut, bagi masyarakat ekonomi kelas bawah ternyata tidak menimbulkan dampak kesejahteraan kehidupan yang berarti. Faktanya hari ini ”yang kaya semakin kaya, yang miskn semakin miskin”, rakyat kelas bawah masih dibayang-bayangi melambungnya harga sembako, kenaikan BBM, angka kemiskinan dan pengangguran melonjak tajam. Data BPS menyebutkan kemiskinan rakyat Indonesia sudah mencapai angka labih dari 59,7 juta jiwa, sedangkan angka pengangguran sudah lebih dari 15,6% jiwa, belum lagi masalah kesehatan, konflik akibat kesenjangan sosial, dan derita-derita wong cilik lainnya.
 

Fostering social solidarity and nationalism through encounters in artistic events

Fostering social solidarity and nationalism through encounters in artistic events
By Mochtar Buchori
 
On April 19, 2006, my office held a discussion about education for nationalism. The participants were asked to concentrate their ideas on a phenomenon my office finds alarming, i.e. the weakening of the sense of nationalism among the young generation. Someone from my office think that these days many smart and critical young people, between 30-35 years of age, particularly display this phenomenon. They are very cynical about the country’s present conditions, and very pessimistic about the future of the country. Many of them even think that Indonesia is already a failed state. What do we do about this situation? Shall we just stay idle, and let things take its own course? Or is there anything we can do that could probably turn things around?

The broad consensus reached was that his phenomenon reflects a precarious condition of the nation, and that something must be done if we do not want to witness the demise of this nation. This “something” can be found in education. This does not mean that our present situation is entirely the result of cumulative failures in our education. Most of the participants thought actually that it is the political system –the government, the parliament, the political parties, at the local and national levels—that is particularly responsible for the present chaotic conditions.

We realize at the same time that it is impossible for any non-political group to do something that will significantly affect the political course of the country. But we feel, nevertheless, that there is something we can still do in education to generate a cultural force that will eventually, and hopefully, take this nation out of the present crises. This belief has probably come from the fact that the participants of this discussion were persons who have affiliations with a variety of educational institutions: pesantrens, modern Islamic elite schools, Catholic schools, ordinary “secular” schools, schools for students with special talents for arts, and “alternative education” institutions that provide education to poor children.

We discussed three questions. One, Is there a real effort in the system that attempts to cultivate within the minds of children the sense of nationalism? Two, Is education for nationalism in any way affected by social status and religious affiliation? Three, Can an educational event be organized that will narrow the gap between students from the economically privileged and those from the underprivileged class?

The opinions expressed in discussing the first question were rather gloomy and not too encouraging. The participants said in general that our schools today put so much emphasis on accumulation of knowledge, and pay so little attention to things that are not directly related to acquiring knowledge as an intellectual instrument to achieve pragmatic ends. And if nationalism is discussed at all it is usually discussed in a formal and rhetorical way. Presented in this manner discussions about nationalism seldom elicit feelings of nationhood among students.

At one point the discussion touched upon the problem of balancing instruction that imparts internationalism on the one hand and instruction that imparts nationalism on the other. The question was asked whether in international schools for Indonesian children measures are taken to ensure that students get a balanced sense of internationalism and nationalism. This branched out into a discussion about whether children from underprivileged institutions exhibit greater sense of nationalism than children from privileged schools.  

The picture that emerged from this discussion was very interesting. One participant with very broad experience in organizing alternative education for street children stated that in his view street children do not exhibit stronger sense of nationalism than children from privileged schools. Both groups of children are showing deficiencies in their understanding and appreciation of nationalism. Rich children have no strong interest for anything national. Their entire interest is focused on “making it” at the international level. Children coming from the economically handicapped, are too preoccupied with “life survival” at the gang level. The right sense of nationalism will never enter into their mind as long as they are still walking around with a “gang mentality”. Education toward nationalism is thus a problem that still needs further exploration in schools both for the rich and for the poor.

 

UPAYA MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG DAPAT MERANGSANG BERKEMBANGAN POTENSI ANAK

UPAYA MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR
YANG DAPAT MERANGSANG BERKEMBANGAN POTENSI ANAK

Perkembangan Anak
Dalam  menyongsong  era  globalisasi  dibutuhkan  suatu  modal,  agar  kita  dapat sukses  melalui era ini.  Modal yang  terpenting adalah kualitas dari sumber daya manusia sendiri. Sumber daya ini dipengaruhi  oleh  berbagai  faktor,  antara  lain   tingkat pendidikannya.

Dibutuhkan bermacam faktor penunjang agar dapat tercapai tingkat pendidikan optimal yang diharapkan. Selain sarana dan prasarana seperti tempat pendidikan, kondisi sosial ekonomi, lingkungan masyarakat, dan keluarga yang menunjang tercapainya pendidikan yang baik, ada faktor penting lain yang berasal dari dalam sumber daya manusia itu sendiri, yaitu kecerdasan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan yaitu faktor internal (dari dalam diri sendiri) dan faktor eksternal (faktor luar). Faktor internal tentunya sangat tergantung pada perkembangan fungsi otaknya, yang terjadi sejak ia masih berada di dalam kandungan itu, oleh karenanya faktor gizi ibu dan anak sangatlah penting untuk diperhatikan.

Selain hal terebut di atas ada faktor lain pada diri anak itu sendiri yang dapat mempengaruhi kecerdasan yaitu faktor emosi dan perilaku dari anak tersebut. Dalam kondisi emosi dan perilaku terganggu tentunya anak tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal. Ia akan mengalami berbagai hambatan dalam tumbuh kembangnya, seperti gangguan perkembangan fisik, gangguan dalam bidang akademis, dan interaksi sosial dengan lingkungan dan sebagainya. Selain hal itu faktor eksternal juga sangat penting untuk diperhatikan , karena mempunyai dampak yang sangat besar pada tumbuh kembang anak bila faktor ini mengalami masalah. Kondisi-kondisi semacam ini apabila tidak dideteksi sedini mungkin dan mendapatkan pertolongan secepatnya, dapat mengakibatkan perkembangan anak terganggu termasuk kecerdasannya. Diharapkan dengan intervensi dini, anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal sesuai dengan kemampuannya.

Pertumbuhan (growth) anak berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang biasa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (centimeter, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).

Perkembangan (development) anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa.
 

USAHA PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN

USAHA PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.

Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik. Dalam situasi seperti ini, guru sebagai fasilitator pembelajaran dituntut kemampuannya dalam menggunakan teknologi, dengan demikian dengan adanya TIK dapat meningkatkan kompetensi guru sebagai pendidik. Sejauh manakah peran TIK dalam meningkatkan kompetensi guru sebagai pendidik? Adakah keterkaitan antara teknologi informasi dengan guru profesional?

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menegah (UU.14/2005 pasal 1; ayat 1). Dalam menjalankan tugasnya pada masa sekarang, profesionalisme menjadi tuntutan dan menjadi bagian integral dari profesi guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Guru profesional adalah sifat dan tanggungjawab yang dilakukan guru dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai standar profesionalisme, misalnya melalui pendidikan dan latihan, proses sertifikasi, atau kegiatan-kegiatan yang diselenggrarakan dalam menunjang profesionalitas.

Profesionalisme Guru merupakan cara yang logis untuk menghadapi perubahan sosial sebagai konsekuensi globalisasi dalam berbagai bidang. Profesionalisme diyakini mampu meningkatkan kinerja yang optimal dunia pendidikan sehingga pada akhirnya dapat menciptakan cita-cita pendidikan sebagai insan kamil yang cerdas dan berakhlak mulia, mampu menghadapi perubahan zaman, secara damai, terbuka, demokratis, dan berkompetisi yang bermuara pada meningkatnya kesejahteraan seluruh warga Indonesia.
Oleh sebab itulah telah menjadi sebuah keharusan kalau setiap lembaga pendidikan dasar dan menegah di Indonesia, profesionalisme guru harus dikembangkan dan dimulai dari kegiatan belajar mengajar dan kegiatan kependidikan sehari-hari baik dikelas maupun pada organisasi guru. Sejalan dengan berbagai tuntutan profesionalisme, perubahan sosial dan perkembangan TIK, budaya mutu merupakan suatu paradigma yang dapat dijadikan pijakan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari tata kelola proses-proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah.
   

Halaman 1 dari 4

Mutiara Hikmah

Pembina P3SN

 

Iklan Anda

 

 INFO CALL:085713771212

 

Data kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterSekarang7
mod_vvisit_counterKemarin30
mod_vvisit_counterSeminggu237
mod_vvisit_counterMinggu Lalu329
mod_vvisit_counterSebulan115
mod_vvisit_counterBulan Lalu1346
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan7222

We have: 2 guests online
IP Anda: 38.107.191.81
 , 
Today: Sep 04, 2010

Kunjungan Saat ini

Ada 2 tamu online

Sekretariat

Jl. Mesjid At-Taqwa RT 02/RW 08

Kelurahan Kembangan Utara Kecamatan Kembangan

Kotamadya Jakarta Barat

Telp. 02191523905, 02191287015, 081388705094

Poling

Sejauh mana kemandirian pesantren sampai sekarang?