• Daftar
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Mealist

Ingin tau tlebih cepat mengetahui perkembangan agenda yang akan kami laksanakan? Masukkan nama dan email anda yang masih aktif
Interpreanership



Mei 2012
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

You are here: Home

Pesantren Nusantara, Membina Kemandirian Ekonomi Pesantren

INTEGRASI KURIKULUM BERBASIS KARAKTER DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

INTEGRASI KURIKULUM BERBASIS KARAKTER DALAM
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Oleh: Aris Adi Leksono, S.Pd.I*


Revitalisasi Pendidikan Karakter di Madrasah
Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk pada jenjang madrasah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. 
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.
 

MEMBANGUN KARAKTER “MEMERDEKAN”

MEMBANGUN KARAKTER “MEMERDEKAN”
oleh; Aris Adi Leksono 

Terdapat kesan yang mendalam dalam merayakan HUT RI ke-66 th tahun, itulah ungkapan yang dirasakan oleh beberapa teman saat berbincang santai sambil menunggu beduk maghrib. Lebih jauh penulis menyimpulkan dari obrolan santai tesebut makna kesan mendalam mereka; pertama, HUT Kemerdekaan kali ini berbarengan dengan bulan ramadhan seakan mengulang momentum 66 tahun lalu, saat bangsa ini diproklamirkan kemerdekaannya oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Kedua; kaum muslimin akan merayakan dua kali hari kemerdekaan dalam satu momen; hari kemerdekaan RI, dan hari kemerdekaan idul fitri setalah sebulan berpuasa.

Terlepas dari kesan mendalam tersebut, pertanyaannya apa yang bisa kita perbuat dengan momentum yang luar biasa ini? Apakah kita hanya dapat membaca dan mengenang sejarah, tanpa berbuat? atau sekedar memperingati moment ini dengan ceremonial upacara saja?. Sementara di luar sana banyak orang yang merasa “belum merdeka”, karena lemahnya ekonomi. Pada tataran Negara, kita masih “belum merdeka”, karena belenggu penjajahan para koruptor terhadap kekayaan bangsa ini yang membahayakan nasib generasi muda di masa yang akan datang. Pada moment yang kedua benarkah? kita layak disebut “pemenang atau merdeka”, dengan melewati bulan ramdhan dengan segudang amal indah dan rahmat lailatul qodar. 

Lebih jauh tulisan ini akan mengupas apa yang harus dilakukan ke depan? dan apa spirit yang harus kita bangun dengan dua modal moment yang berharga tersebut, terlebih jika dikaitkan dengan penanaman karakter generasi mendatang. Terutama bagi insan Madrasah di lingkungan Kementerian Agama RI, yang jika ditilik secara historis dan materialis adalah salah satu pemilik nomenklatur kedua moment tersebut. Maka tidak ada kata lain kecuali kita harus bisa mengambil hikmah yang mendalam, terutama dalam praktek pendidikan di Madrasah.
 

MUHASABAH & SMART MOTIFASI

MUHASABAH & SMART MOTIFASI
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SANTRI NUSANTARA (P3SN)
Bagi Warga Binaan Sosial Ceger Jakarta Timur

LATAR BELAKANG
Pembangunan di Indonesia yang dilaksanakan secara berkesinambungan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia secara adil dan merata. Hasil dari pembangunan yang dilaksanakan secara bertahap diharapkan dapat mengurangi kesenjangan yang ada di masyarakat baik sosial, ekonomi maupun budaya.

Idealnya cita-cita bangsa adalah demikian, namun faktanya manjadi berbeda, masih ada sebagian saudara-saudara kita mendapatkan cobaan terkait kesejahteraan mereka, sehingga mereka harus memilih urbanisasi ke Ibu Kota, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan.

Dengan bekal kemampuan dan keterampilan seadanya mereka nekat urban ke Jakarta, alih-alih mendapatkan kesejahteraan, justru yang didapat adalah kesengsaraan dan kesenjangan sosial, akibatnya menjadi masalah sosial bagi pemerintah provinsi DKI Jakarta

Nasi sudah menjadi bubur, masalah harus mendapatkan winwin solution, Pusat Pengembangan & Pemberdayaan Santri Nusantara (wwww.pesantrennusantara.com) mencoba mengambil peran dalam mengatasi salah satu problem sosial masyarakat ibu kota dengan kegiatan “Muhasaban Smart Motivation” bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) atau biasa disebut Warga Binaan Sosial (WBS).
 

LAUNCHING GERAKAN KEMANDIRIAN EKONOMI & PELATIHAN KOPERASI

Press Realise
LAUNCHING GERAKAN KEMANDIRIAN EKONOMI
& PELATIHAN KOPERASI
“Optimalisasi Peran Mahasiswa Dalam Mewujudkan Kemandirian Rakyat”
Malang,  22 – 24 Juni 2011 

I. LATAR BELAKANG
Fakta angka pengangguran yang cukup tinggi di negeri yang kaya sumber daya alam (SDA) tidak bisa di pandang sebelah mata. Dampaknya, munculnya penyakit social dewasa ini yang meresahkan masyarakat semisal perampokan, pemerasan dan lain sebagainya merupakan klimaks dari prilaku yang disebabkan oleh ketidak berdayaan individu sebagai bagian terkecil dari masyarakat. dengan pola yang berbeda-beda, akan tetapi motifnya tetap satu yaitu persoalan ekonomi yang semakin terhimpit. Dan lebih parah lagi hal ini dilakukan kebanyakan oleh pemuda yang usianya produktif yang seharusnya mempunyai daya kreatif yang cukup kuat untuk tidak terjebak pada prilaku-prilaku yang meresahkan tersebut. 
Keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada interfensi yang masif oleh komponen bangsa, dengan cara semakin membuka peluang lapangan kerja. secara sosiologis sebaiknya harus dimulai dengan penyadaran sistemik pada pola pikir dan asah kemampuan untuk menstimulus individu agar sadar dan mau merubah nasibnya sendiri.
Pembangunan ekonomi menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional bahkan menjadi skala prioritas pemerintah. Suksesnya pembangunan suatu negara lebih banyak diukur dari sejauhmana pertumbuhan ekonominya.  Apalagi setelah adanya penandatanganan MoU pelaksanaan ACFTA beberapa bulan yang lalu oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Bandung, menjadi tantangan yang dilematis bagi masyarakat di tengah-tengah persoalan ekonomi bangsa yang tak kunjung usai. 

Para pelaku industri merasa khawatir terhadap hasil perjanjian tersebut , apalagi produk-produk china mendominasi produk impor, sehingga memberikan dampak yang kurang baik bagi pelaku industri tanah air, terutama sektor UKM, lebih ironis lagi dampak ACFTA tersebut menyebabkan sebagian dari perusahaan gulung tikar karena mereka tidak mampu berkompetisi dengan produk china yang murah, dan berkualitas. Akibatnya terjadi PHK besar-besaran terhadap karyawan pabrik dan bertambahnya pengangguran. 
   

Halaman 1 dari 6

Mutiara Hikmah

Pembina P3SN

 

Iklan Anda

 

 

Data kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterSekarang17
mod_vvisit_counterKemarin38
mod_vvisit_counterSeminggu55
mod_vvisit_counterMinggu Lalu494
mod_vvisit_counterSebulan1296
mod_vvisit_counterBulan Lalu2138
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan47340

We have: 3 guests, 2 bots online
IP Anda: 38.107.179.207
 , 
Today: Mei 21, 2012

Kunjungan Saat ini

Ada 5 tamu online

Sekretariat

Jl. Mesjid At-Taqwa RT 02/RW 08

Kelurahan Kembangan Utara Kecamatan Kembangan

Kotamadya Jakarta Barat

Telp. 02191523905, 02191287015, 081388705094

Poling

Sejauh mana kemandirian pesantren sampai sekarang?