UPAYA MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR
YANG DAPAT MERANGSANG BERKEMBANGAN POTENSI ANAK
Perkembangan Anak
Dalam menyongsong era globalisasi dibutuhkan suatu modal, agar kita dapat sukses melalui era ini. Modal yang terpenting adalah kualitas dari sumber daya manusia sendiri. Sumber daya ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain tingkat pendidikannya.
Dibutuhkan bermacam faktor penunjang agar dapat tercapai tingkat pendidikan optimal yang diharapkan. Selain sarana dan prasarana seperti tempat pendidikan, kondisi sosial ekonomi, lingkungan masyarakat, dan keluarga yang menunjang tercapainya pendidikan yang baik, ada faktor penting lain yang berasal dari dalam sumber daya manusia itu sendiri, yaitu kecerdasan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan yaitu faktor internal (dari dalam diri sendiri) dan faktor eksternal (faktor luar). Faktor internal tentunya sangat tergantung pada perkembangan fungsi otaknya, yang terjadi sejak ia masih berada di dalam kandungan itu, oleh karenanya faktor gizi ibu dan anak sangatlah penting untuk diperhatikan.
Selain hal terebut di atas ada faktor lain pada diri anak itu sendiri yang dapat mempengaruhi kecerdasan yaitu faktor emosi dan perilaku dari anak tersebut. Dalam kondisi emosi dan perilaku terganggu tentunya anak tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal. Ia akan mengalami berbagai hambatan dalam tumbuh kembangnya, seperti gangguan perkembangan fisik, gangguan dalam bidang akademis, dan interaksi sosial dengan lingkungan dan sebagainya. Selain hal itu faktor eksternal juga sangat penting untuk diperhatikan , karena mempunyai dampak yang sangat besar pada tumbuh kembang anak bila faktor ini mengalami masalah. Kondisi-kondisi semacam ini apabila tidak dideteksi sedini mungkin dan mendapatkan pertolongan secepatnya, dapat mengakibatkan perkembangan anak terganggu termasuk kecerdasannya. Diharapkan dengan intervensi dini, anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal sesuai dengan kemampuannya.
Pertumbuhan (growth) anak berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang biasa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (centimeter, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
Perkembangan (development) anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa.
Potensi Anak
Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat penrting bagi seorang anak untuk belajar dari dunia sekelilingnya. Anak dapat mengembangkan ketrampilan yang memudahkan baginya menjadi bagian dari lingkungan dan berperan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Periode awal kehidupan ini (anak klas VI SD usia 12 – 14 tahun ) adalah masa yang kritis untuk menentukan masa depan anak Pada masa ini banyak terjadi perkembangan perkembangan antara lain:
a. Perkembangan fisik: bertambahnya tinggi dan berat yang relatif lambat dan uniform. Pada umumnya anak perempuan lebih cepat mencapai pubertas daripada anak laki-lakinya karenanya anak laki-laki pada umumnya lebih pendek dari anak perempuan sebayanya.
b. Perkembangan motorik: pada masa sekolah merupakan usia yang ideal untuk ketrampilan-ketrampilan yang tidak hanya berguna baginya pada masa itu, tetapi yang juga merupakan fondasi bagi ketrampilan- ketrampilan tinggi yang terkoordinir yang diperlukan dikemudian hari.
c. Perkembangan bahasa: dasar-dasar atau fondasi bahasa diletakkan pada masa kanak-kanak. Perbendaharaan kata anak berkembang begitu cepat, horizon social anak semakin luas, dia sudah menyadari bahwa bahasa merupakan alat yang penting untuk kesatuan kelompok. Hal ini menyebabkan motivasinya menjadi lebih besar untuk berbicara .Pada masa ini pula muncul bahasa rahasia yang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan kawan akrabnya.
d. Perkembangan emosi: emosi-emosi yang umum dialami pada tahap perkembangan ini adalah marah, takut, cemburu, kasih saying, rasa ingin tahu, dan kegembiraan. Dari bertambah luasnya pengalaman dan belajar anak sering muncul pernyataan atau ekspresi baru tentang emosinya.
e. Perkembangan social; anak mulai belajar mencintai dan dicintai di rumah, kesuksesan pengalaman social yang pertama akan menentukan keberhasilannya dalam hubungannya di luar lingkungan rumah.
f. Perkembangan pemahaman; perasaan dan emosi mempengaruhi apa yang dilihatnya. Konsep-konsepnya sering bersalahan teruatama mengenai konsep social. Pemahaman mengenai lingkungannya akan meningkat melaluipengajaran formal yang diterimanya di kelas tetapi juga dari teman sebayanya dan melalui kemampuan membacanya.
g. Perkembangan moral. Konsep moral anak bersifat subyektif artinya menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan akibat-akibat dari perbuatannya sendiri. Pada masa ini anak meletakkan fondasi bagi pengembnangan moral yang akan menjadi pedoman bagi tingkah laku di kemudian hari.
h. Perkembangan minat. Dengan berkembangnya intelegensi anak timbul pula minat-minat baru. Minat anak bertambah kuat sbagai akibat bertambah luas lingkungannya dan semakin banyak ia berhubungan dengan orang-orang di luar rumahnya.
i. Hubungan keluarga; pengaruh orang tua terutama ibu masih kuat membekas dalam perkembangan kepribadiannya. Baik buruknya tergantung bagaimana sifat hubungan yang ada antara anak dan keluarganya.
j. Kepribadian; Pola kepribadian yang dasar-dasarnya telah dibangun pada masa bayi mulai terbentuk pada masa sekolah. Faktor-faktor baru mulai mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Kewseluruhan konsep dirinya harus sering mengalami perbaikan. Sekarang ia melihat dirinya sebagaimana guru-guru-gurunya, teman atau tetangganya.
Belajar dan Pembelajaran
Belajar adalah proses atau hasil perubahan pada aspek kapabilitas (pengetahuan, sikap dan ketrampilan, dan perilaku) sebagai akibat berintraksi dengan lingkungannya. Perubahan perilaku yang relatif permanen itu ditentukan oleh stimuli yang dipasok oleh lingkungan luar seseorang, perubahan tingkah laku seseorang dapat dikendalikan melalui pengendalian stimuli lingkungan yang tepat sebagai hasil latihan (behavorist).
Prinsip- prinsip Belajar
Belajar terjadi lebih efektif apabila:
1. Dalam lingkungan yang nyaman secara fisik dan psikis bagi wajib belajar Nyaman fisik; sarana dan prasarana belajar yang memadai dan menyenangkan. Nyaman psikis; hubungan saling percaya, saling menghargai, saling membantu, bebas menyatakan pendapat, dan menerima perbedaan diantara wajib belajar dan pendidik.
2. Wajib belajar merasakan kebutuhan belajar. Wajib belajar menganggap tujuan belajar sebagai tujuannya sendiri.
3. Wajib belajar terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan belajar Wajib belajar aktif dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar
4. Berpusat pada pengalaman. Wajib belajar mengalami secara langsung atau tidak langsung proses belajar dan menggunaan pengalamannya secara tepat.
5. Wajib belajar menerima umpan balik yang tepat untuk menilai keberhasilan mereka mencapai tujuan.
Kondisi Belajar dan Prinsip Pembelajaran
Beberapa kondisi belajar dan prinsip pembelajaran yang penting adalah :
1. Wajib belajar merasakan kebutuhan untuk belajar
- Pembelajar menghadapkan wajib belajar pada kemungkinan- kemungkinan baru untuk pemenuhan diri
- Pembelajar membantu wajib belajar memperjelas aspirasi mereka sendiri untuk memperbaiki perilaku
- Pembelajar membantu wajib belajar mendiagnosis kesenjangan antara aspirasi mereka dengan tingkat performansi saat ini.
- Pembelajar membantu wajib belajar mengidentifikasi masalah-masalah kehidupan mereka karena kesenjangan dalam kemampuan personal mereka.
2. Lingkungan belajar ditandai dengan kenyamanan fisik, saling percaya dan menghargai, saling membantu, bebas berekspresi, dan menerima perbedaan.
- Pembelajar mengusakankondisi fisik yang nyaman untuk belajar (ruangan, tempat duduk, sarana dan prasarana belajar) dan kondusif untuk berinteraksi.
- Pembelajar menerima wajib belajar sebagai seseorang yang dihargai dan dihormati perasaan dan gagasannya
- Pembelajar berupaya membangun hubungan saling percaya dan saling menghargai, dan saling membantu antar wajib belajar dengan meningkatkan kegiatan kerja sama dan menahan diri dari kompetisi yang tidak sehat.
- Pembelajar menunjukkan kontribusinya sebagai teman belajar dalam semangat belajar.
3. Wajib belajar memandang tujuan suatu pengalaman belajar sebagai tujuan mereka. Pembelajar melibatkan wajib belajar dalam suatu proses timbal balik perumusan tujuan belajar di mana kebutuhan wajib belajar, lembaga, pembelajar, dan masyarakat diperhitungkan.
4. Wajib belajar berbagi tanggung jawab dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu pengalaman belajar, dan karenaitu ada komitmen terhadapnya. Pembelajar memberikan pemikirannya tentang pilihan pilihan yang ada dalam perencanaan pengalaman belajar dan pemilihan materi dan metode dan melibatkan wajib belajar dalam menentukan mana yang dipakai diantara pilihan-pilihan itu.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisa, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Dari pengertian tersebut dapat kita pahami bahwa ada dua macam penilaian, yatiu (a) penilaian proses dan (2) penilaian hasil belajar.
Untuk Guru, hasil tes disamping berfungsi sebagai alat pengukuran keberhasilan pembelajaran juga dapat dipergunakan untuk mendiagnosis yaitu untuk mengetahui kelemahan-kelemahan hasil belajar siswa dan kemungkinan faktor penyebabnya untuk menentukan tindak lanjutnya.
Guru yang mengalami kegagalan dalam pembelajaran harus segera tanggap dan introspeksi diri dalam pembelajarannya. Upaya pertama kali yang harus dilakukan adalah mengkaji profesionalitas diri sebagai guru, pribadi anak didik, serta lingkungan , informal ataupun lingkungan non formal anak.
Peran Guru dalam Pembelajaran
Guru sebagai ujung tombak pembangunan pendidikan harus memberikan
ruang lingkup yang nyata bagi perkembangan anak dalam rangka introspeksi diri dalam pembelajaran antara lain :
1. Guru harus mampu berperan sebagai tenaga pendidik: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab, berwibawa, dewasa dan mandiri, dan berdedikasi.
2. Guru harus mampu berperan sebagai tenaga pengajar
3. Guru mampu berperan sebagai agen pembaharuan sosial: mampu menyebarluaskan kebenaran, kecakapan kerja, dan nilai-nilai luhur) baik melalui jalur sekolah, maupun peran sosial masyarakat .
4. Guru mesti pantas sebagai teladan bagi siswa dan sesama warga masyarakat di lingkungannya
5. Guru harus menguasai materi pelajaran,trampil menggunakan multi metode dan evaluasi
Peran Orang Tua/ Wali Murid dan Masyarakat
Pribadi, lingkungan informal dan non formal anak didik perlu pula dijadikan Bahan pertimbangan dalam membangun lingkungan belajar. Informasi tentang pribadi,lingkungan informal, dan non formal anak dapat kita gali melalui observasi data kelas,angket,wawancara , dan dokumenter.
Menyikapi hal tersebut sekolah selaku wadah pendidikan berupaya sekuat tenaga, dengan menyadari bahwa salah satu komponen lingkungan belajar informal anak pincang adalah bersama masyarakat atau komite pendidikan berusaha untuk introspeksi diri dan mengubah perilaku yang telah berjalan sesuai dengan kapasitasnya. Usaha-usaha tersebut adalah merancang dan menetapkan rencana kerja antara lain :
1. Menetapkan visi, misi, tujuan, dan target sekolah jangka pendek
2. Menyediakan lingkungan yang mendukung dalam PBM
3. Merencanakan kurikulum sarana dan prasarana, anggaran yang diperlukan.
4. Menetapkan program prioritas yang sesuai dengan kondisi dan dan kebutuhan.








