Piagam “Islam-Indonesia”; Solusi Perdebatan Islam Kekinian
Piagam “Islam-Indonesia”; Solusi Perdebatan Islam Kekinian
Oleh; Aris Adi Leksono*
Sudah menjadi hal yang wajar, situasi dan kondisi kehidupan sosial mahluk yang disebut manusia selalu mengalami perubahan, baik kecil atau besar, guna menuju keteraturan sosial yang dicita-citakan, baik keteraturan yang dicapai melaui analisis budaya, struktur sosial, maupun hubungan antar individu. Bisa jadi dinamisasi adalah sekenario Tuhan, untuk menjaga eksistensi mahluk-Nya yang paling sempurna, pengemban amanat “kekhalifahan” di muka bumi. (simak cerita perdebatan awal mula diciptakan manusia dalam Q.S Al-Baqoroh Ayar 30 - 34).
Jika menengok kondisi bangsa ini, sangat jelas bahwa paragraph di atas bukan hanya sekedar kata-kata belaka. Tetapi merupakan kondisi yang sekarang dialami negara Indonesia yang menuju pada proses kemajuan. Realita sosial bangsa ini mengalami goncangan yang luar biasa, baik kondisi sosial-budaya, ekonomi, politik, sistem kenegaraan, bahkan yang akhir-kahir ini menarik perhatian adalah fenomena interpretasi nilai-nilai keislaman, terutama hal-hal yang menyangkut peran Islam dalam menciptakan keteraturan kehidupan sosial masyarakat bangsa Indonesia, atau sederhananya, bagaimana eksistensi nilai-nilai keislaman dalam penyeleng-garaan negara Indonesia.
Berdebatan ke-islaman sekarang bukan hanya sekedar dikotomi yang dilakukan orde baru “Islam kanan atau Islam kiri”, tetapi sudah pada klaim “kami kelompok masyarakat islam ahlussunah wal-Jama’ah, jika konsep kami tidak digunakan, maka tunggu kehancuran negara (wathoniyah) ini”. Sebagian kelompok yang lain mengklaim “kelompok kami adalah Islam rahmatal lil ‘alamin, selalu mengahargai nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia”. Pastinya semuanya memiliki dasar masing-masing, bahkan bisa jadi ada skenario global dibalik semua itu.
Jendela Pesantren

















