Pesantren adalah lembaga sosial-kemasyarakatan tertua di bumi Nusantara. Keberadaan besantren memiliki peran yang sangat besar dalam mobilitas masyarakat Nusantara. Tidak hanya pada peran keilmuan, keagamaan, tetapi pada peran sosial-kemasyarakatan, seperti; mobilisasi pemberdayaan ekonomi mikro, peran kenegraan dan kebangsaan, bahkan di daerah tertetu menjadi sangat dengan dekat kehidupan mobilisasi politik.
Sebagai bagian dari kekayaan khazanah kontrol sosial masyarakat Nusantara, pesantren dengan segala peran yang sangat mengakar, tidaklah heran jika pesantren melalui alumni dan santrinya sampai hari ini masih memiliki peran yang signifikan bagi perubahan sosial, terutama di level graas rood. Apalagi di tengah kondisi bangsa yang dituntut untuk selalu bebas-terbuka karena pengaruh globalisasi.
Sejarah mencatat bahwa kebangkitan bangsa ini tidak lepas dari peranserta pesantren, terutama dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Pesantren telah membuktikan kiprahnya dalam dunia pendidikan di Indonesia mulai zaman pra kemerdekaan sampai saat ini. Pesantren juga mampu menjaga eksistensinya, bahkan mampu beradaptasi dengan tantangan pola hidup globalisasi bangsa ini.
Pesantren sebagai salah satu perintis lembaga pendidikan Islam nusantara, telah membuktikan keberhasilannya dalam membangun kualitas sumber daya manusia (human resources development) di Indonesia. Misalnya pesantren yang dulu cikal bakalnya hanya tempat mengaji Al-Qur’an, kini telah berubah menjadi tepat kajian mamahami Al-Qur,an, sains dan lainya, sehingga SDM yang dikeluarkan dari pesantren pun akan memiliki kemampuan yang mampu menjawab tantangan globalisasi, baik dari segi intlektual maupun sepiritualnya.
Sejarah pun membuktikan bahwa komunitas pesantren juga telah mampu melahirkan pemimpin bangsa dan tokoh besar masyarakat yang kemampuannya tidak diragukan lagi, sebut saja KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Gus Dur, serta masih banyak lagi tokoh-tokoh revolusioner bangsa ini yang memiliki latar belakang pesantren, dan mereka mampu menjadi pelopor dalam setiap perubahan mendasar rakyat.
Tidak kalah pentingnya adalah peran pesantren secara istiqomah dalam memposisikan dirinya sebagai “benteng pertahanan” menjaga kemurnian, kesejukan dan kedamaian ajaran Islam. Hal itu bisa kita amati bagaimana aktifitas interaksi kehidupan sosial pesantren. Pada tingkatan mikro masyarakat sekitar pesantren misalnya, SDM pesantren mampu mewarnai corak dan pola kehidupan sekitarnya dengan kesejukan dan kedamaian nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian pada aktifitas kehidupan persantren sendiri, dapat disaksikan bahwa pesantren mampu mengimplementasikan pola dan corak kehidupan yang inklusif, moderat, pluralis dan demokratis. Hal itu sesuai dengan syair yang biasa didengungkan dikalangan pesantren “menjaga agama, jiwa, harta, keluarga, akal sehat dan kehormatan adalah kewajiban setiap yang beriman”.
Sebagian realitas tersebut menyimpulkan bahwa pesantren adalah lembaga yang memiki banyak fungsi (multi fungsi), mulai sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwa Islam, beteng pertahanan ajaran Islam, sampai lembaga penjaga nilai inklusifisme, demokratisisme, dan pluralisme. Serta tidak kalah pentingnya juga adalah nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan dalam jiwa kader pesantren. Sehingga kondisi itu juga berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat kader pesantren.
Pada kondisi bangsa yang seperti sekarang ini, dimana hampir seluruh aspek kehidupan tidak menentu akibat percepatan global, pesantren sebagai basic kultur masyarakat Indonesia harus mengambil peran dalam menuntaskan problem kebangsaan, kemandirian bangsa, pertahanan dan keamanan, serta ekonomi politik. Peran strategis pesantren ini penting, karena dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia, tidak terlepas dari kekuatan potensi pesantren. Pada saat inilah optimalisasi peran alumni dan santri menjadi sangat penting, sehingga penguatan kapasitas kompetensi berdasarkan talenta yang dimiliki sangat diperlukan, baik dari keilmuan, kemadirian, kematangan kiprah di lapangan, dan kepekaan terhadapa respon perubahan social lainnya.
Berangkat dari pembacaan di atas, perwakilan santri atau alumni pondok pesantren dari baberapa daerah di pelosok nusantara ini, bermaksud untuk membuat kegiatan yang dapat menegaskan kembali identitas dan potensi pesantren sebagai salah satu “soko guru” dalam perubahan mendasar rakyat, terutama bagi masyarakat kelas bawah (graas rood). Hal itu mengingat besarnya potensi pesantren dalam membangun mobilisasi perubahan dan kemajuan masyarakat nusantara.
Sebagai bagian dari kekayaan khazanah kontrol sosial masyarakat Nusantara, pesantren dengan segala peran yang sangat mengakar, tidaklah heran jika pesantren melalui alumni dan santrinya sampai hari ini masih memiliki peran yang signifikan bagi perubahan sosial, terutama di level graas rood. Apalagi di tengah kondisi bangsa yang dituntut untuk selalu bebas-terbuka karena pengaruh globalisasi.
Sejarah mencatat bahwa kebangkitan bangsa ini tidak lepas dari peranserta pesantren, terutama dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Pesantren telah membuktikan kiprahnya dalam dunia pendidikan di Indonesia mulai zaman pra kemerdekaan sampai saat ini. Pesantren juga mampu menjaga eksistensinya, bahkan mampu beradaptasi dengan tantangan pola hidup globalisasi bangsa ini.
Pesantren sebagai salah satu perintis lembaga pendidikan Islam nusantara, telah membuktikan keberhasilannya dalam membangun kualitas sumber daya manusia (human resources development) di Indonesia. Misalnya pesantren yang dulu cikal bakalnya hanya tempat mengaji Al-Qur’an, kini telah berubah menjadi tepat kajian mamahami Al-Qur,an, sains dan lainya, sehingga SDM yang dikeluarkan dari pesantren pun akan memiliki kemampuan yang mampu menjawab tantangan globalisasi, baik dari segi intlektual maupun sepiritualnya.
Sejarah pun membuktikan bahwa komunitas pesantren juga telah mampu melahirkan pemimpin bangsa dan tokoh besar masyarakat yang kemampuannya tidak diragukan lagi, sebut saja KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Gus Dur, serta masih banyak lagi tokoh-tokoh revolusioner bangsa ini yang memiliki latar belakang pesantren, dan mereka mampu menjadi pelopor dalam setiap perubahan mendasar rakyat.
Tidak kalah pentingnya adalah peran pesantren secara istiqomah dalam memposisikan dirinya sebagai “benteng pertahanan” menjaga kemurnian, kesejukan dan kedamaian ajaran Islam. Hal itu bisa kita amati bagaimana aktifitas interaksi kehidupan sosial pesantren. Pada tingkatan mikro masyarakat sekitar pesantren misalnya, SDM pesantren mampu mewarnai corak dan pola kehidupan sekitarnya dengan kesejukan dan kedamaian nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian pada aktifitas kehidupan persantren sendiri, dapat disaksikan bahwa pesantren mampu mengimplementasikan pola dan corak kehidupan yang inklusif, moderat, pluralis dan demokratis. Hal itu sesuai dengan syair yang biasa didengungkan dikalangan pesantren “menjaga agama, jiwa, harta, keluarga, akal sehat dan kehormatan adalah kewajiban setiap yang beriman”.
Sebagian realitas tersebut menyimpulkan bahwa pesantren adalah lembaga yang memiki banyak fungsi (multi fungsi), mulai sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwa Islam, beteng pertahanan ajaran Islam, sampai lembaga penjaga nilai inklusifisme, demokratisisme, dan pluralisme. Serta tidak kalah pentingnya juga adalah nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan dalam jiwa kader pesantren. Sehingga kondisi itu juga berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat kader pesantren.
Pada kondisi bangsa yang seperti sekarang ini, dimana hampir seluruh aspek kehidupan tidak menentu akibat percepatan global, pesantren sebagai basic kultur masyarakat Indonesia harus mengambil peran dalam menuntaskan problem kebangsaan, kemandirian bangsa, pertahanan dan keamanan, serta ekonomi politik. Peran strategis pesantren ini penting, karena dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia, tidak terlepas dari kekuatan potensi pesantren. Pada saat inilah optimalisasi peran alumni dan santri menjadi sangat penting, sehingga penguatan kapasitas kompetensi berdasarkan talenta yang dimiliki sangat diperlukan, baik dari keilmuan, kemadirian, kematangan kiprah di lapangan, dan kepekaan terhadapa respon perubahan social lainnya.
Berangkat dari pembacaan di atas, perwakilan santri atau alumni pondok pesantren dari baberapa daerah di pelosok nusantara ini, bermaksud untuk membuat kegiatan yang dapat menegaskan kembali identitas dan potensi pesantren sebagai salah satu “soko guru” dalam perubahan mendasar rakyat, terutama bagi masyarakat kelas bawah (graas rood). Hal itu mengingat besarnya potensi pesantren dalam membangun mobilisasi perubahan dan kemajuan masyarakat nusantara.




















