Oleh; Aris Adi Leksono*

Apa yang terjadi pada Negara ini? Penyakit apa yang mengingapi bangsa ini? Hingga tidak ada cara yang genuine untuk mengatasi problem yang dialaminya. Problem ekonomi, yang telah melahirkan banyak pengangguran, pemiskinan, hingga berujung pada tindak Kriminal. Problem politik, jelas sekali bisa kita saksikan, bagaimana para pemimpin bangsa ini, para wakil rakyat, serta para aktifis parpol, justru malah banyak membohongi rakyat, mencuri kekayaan Negara untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri, sehingga melahirkan birokrasi yang korup. Problem pertahanan dan keamanan, sudah menjadi rahasia umum kalau negara asing sangat mudah menancapkan kukunya, sehinggga kedaulatan bangsa dan Negara hari ini menjadi tercabik-cabik oleh intervensi asing, rekayasa global.
Ratusan analis, pengamat, praktisi, serta akademisi, membicarakan problem bangsa ini. Semuanya hanya bicara, belum ada blue print tentang desain penyelenggaraan dan pengembangan Negara yang strategis, dapat disepakati bersama, serta dijadikan landasan gerak perubahan. Apalagi kalau kita menyaksikan hiruk pikuk menjelang pemilu 2009, ribuan calon wakil rakyat (caleg) yang asal-asalan, tidak memenuhi standart kualitas, baik intlektual maupun pengalaman lapangan, sehingga banyak calon karbitan, anak masih bau kencur, preman tongkrongan, yang semuanya tidak faham nilai perjuagan dan pengorbanaan. Mereka hanya diambil oleh parpol tertentu untuk mengejar target dukungan massa, bukan SDM yang benar-benar disiapkan untuk menjadi pengawal kesejahteraan rayat menuju kemandirian bangsa dan negara. Lantas bagaimana mereka mengentaskan segudang problem bangsa ini?.
Delematis memang melihat kondisi Negara Indonesia ini, di negeri yang kaya SDA, segudang SDM yang berkualitas, hanya setagnan pada predikatnya “berkembang”, apa yang terjadi?. Semangat apalagi yang bisa membumikan motifasi pengorbanan dan pengabdian untuk kemajuan bangsa?. Reformasi yang diharapkan dapat mengeluarkan bangsa ini dari belenggu tirani
justru menjadi kubangan derita bagi rakyat kecil. Mungkin kalau bisa ditamsilkan, kondisi ini adalah praktik “jahiliyyah” yang tercatat dalam sejarah perkembangan peradaban umat Islam. Mereka mengerti dan faham, tapi pura-pura tidak mengerti, mereka pintar dan cerdas, tapi menyembah batu, tidak menggukan potensinya untuk mengembangkan kehidupannya. Seperti halnya kondisi para penyelenggara Negara ini, mereka faham korupsi itu dilarang, karena akan memiskinkan bangsa, tapi malah menjadi budaya birokrasi. Sumber daya alam Indonesia yang seharusnya dipergunakan untuk sepenuhnya kemakmuran rakyat, justru dijual ke asing, atau dimanfaatkan untuk pribadi dan golongannya.
Kalau Anis Baswedan dalam artikelnya menekankan sikap optimisme kebangsaan dalam mengentaskan problem bangsa, dengan segudang potensi SDM dan SDA yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mampu berproses menjadi Negara maju meninggalkan predikat “Negara berkembang”, keluar dari kubangan mental kulit budak, menjadi Negara yang mandiri, adil, makmur, dan sejahtera. Maka perlu optimesme dan potensi itu dibarengi dengan kecerdasan hati sebagai spirit dalam setiap proses perubahan menuju kemajuan. Artinnya kombinasi kecerdasan intlektual dan spiritual, serta spirit keyakinan “Indonesia Bisa Bangkit” adalah modal besar menuju perubahan bangsa Indonesia yang dicita-citakan. Akhirnya Negara ini akan maju berakarkan nilai-nilai pengabdian dan pengorbanan yang sistematis, terukur, dan memiliki target perubahan yang jelas. Wallahul ‘alam
Kalau Anis Baswedan dalam artikelnya menekankan sikap optimisme kebangsaan dalam mengentaskan problem bangsa, dengan segudang potensi SDM dan SDA yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mampu berproses menjadi Negara maju meninggalkan predikat “Negara berkembang”, keluar dari kubangan mental kulit budak, menjadi Negara yang mandiri, adil, makmur, dan sejahtera. Maka perlu optimesme dan potensi itu dibarengi dengan kecerdasan hati sebagai spirit dalam setiap proses perubahan menuju kemajuan. Artinnya kombinasi kecerdasan intlektual dan spiritual, serta spirit keyakinan “Indonesia Bisa Bangkit” adalah modal besar menuju perubahan bangsa Indonesia yang dicita-citakan. Akhirnya Negara ini akan maju berakarkan nilai-nilai pengabdian dan pengorbanan yang sistematis, terukur, dan memiliki target perubahan yang jelas. Wallahul ‘alam
** Ketua Umum P3SN
Artikel tebaru :
- 15/07/2011 02:26 - MUHASABAH & SMART MOTIFASI
- 23/04/2010 06:23 - MENENGOK TUHAN DIBALIK SEMUA KEJADIAN
Artikel lama:
- 04/03/2009 09:40 - Mengatasi Parasomnia pada Anak
- 04/03/2009 09:39 - Agar Buah Hati Mahir Membaca
- 04/03/2009 09:39 - Mengatasi Anak Suka Berbohong
- 04/03/2009 09:38 - Buah Hati Penyejuk Jiwa




















Komentar masuk
RSS feed for comments to this post.