• Daftar
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Mealist

Ingin tau tlebih cepat mengetahui perkembangan agenda yang akan kami laksanakan? Masukkan nama dan email anda yang masih aktif
Interpreanership



Pebruari 2012
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

You are here: Home Wawasan Islam Jendela Keluarga MENENGOK TUHAN DIBALIK SEMUA KEJADIAN

MENENGOK TUHAN DIBALIK SEMUA KEJADIAN

Email Cetak PDF

MENENGOK TUHAN
DIBALIK SEMUA KEJADIAN
Oleh : Aries Adi Leksono*

YASINA Jabar

Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa "segala kebaikan yang datang kepada seorang hamba adalah dari Allah SWT, sedangkan segala bentuk kejelekan adalah akibat perbuatan mahluk sendiri". Lebih lanjut dijalaskan bahwa “… terjadinya kerusakan di muka bumi dan di laut adalah disebab ulah tangan-tangan manusia itu sendiri”.

Isi kandunganal-Qur'an tersebut memberikan pengertian bahwa Allah SWT tidak pernah menghendaki kehancuran kepada mahluknya. Tuhan selalu menginginkan kebaikanpada mahluknya, karena tuhan senang sekali kepada kebaikan. Baik kebaikan dalam niat, perkataan, perbuatan dan hal lainnya yang langsung berhubungan dengan Allah (hablun min allah) ataupun hubungan antar sesama mahluknya (hablun min nas). Keinginan Tuhan tersebut, juga tergambar dalam hadits Qudsi "sesungguhnya Allah adalah Dzat yang maha baik, Allah tidak menerima kecuali kebaikan". Begitu pula sebaliknya tuhan tidak pernah berkeinginan untuk mencelakakan mahluknya dengan memberikan kejelekan, bencana, musibah, dll. Tuhan selalu memberikan hikmah dalam setiap kejadian yang Dia kehendaki.

Harus difahami, meskipun keinginan Tuhan untuk selalu mewujudkan kebaikan kepada mahluknya tersebut didahului dengan kehancuran, yang menurut rasio itu adalah "pasti jelek", akan tetapi kalau kita mau berfikir secara mendalam, tidak mudah putus asa, penuh kesabaran, maka sebenarnya dibalik kehancuran tersebut adalah menyimpan banyak hikmah. Oleh kerena itu kita tidak boleh mudah berburuk sangka pada Tuhan. Dan hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Dzat Yang Maha layak dimohon pertolongannya dalam segala macam kejelekan, musibah dan ujian yang menimpah kita, umumnya bangsa ini. Bukan hanya kekuatan materi, yang pada umumnya malah memberatkan kita sendiri. Kita boleh bangga terhadap kamajuan ilmu pengetahuan, sains dan tehnologi yang kita capai, akan tetapi kita juga harus ingat bahwa semua itu adalah sifatnya sementara dan akan rusak. Hanya Allah SWT yang maha abadi, maha kekal dan maha segalanya.

Mengenal Tuhan

Masih ingatkah pada cerita seorang hamba Allah yang berusaha mendapatkan kebenaran agama. Dia adalah Nabi Ibrahim as, Nabi pertama yang mendapatkan kebenaran agama samawi dengan ijtihatnya sendiri. Ibrahim dimasa itu adalah seorang pemuda yang memiliki pemikiran genius, dia memiliki pemikiran yang tidak sesuai dengan orang-orang dimasa itu, dia selalu menentang doktrin agama yang diajarkan oleh ayahnya, menyembah patung. Bahkan dia berani menentang seorang raja yang dzalim, Namrud demi mendapatkan kebenaran agama yang dia inginkan. Ibrahim menganggap bahwa agama yang dianut oleh kerajaan dan keluarganya di masa itu adalah agama yang salah, sehingga dia berkeinginan untuk merubahnya. Dalam usahanya untuk mencari kebenaran agama tersebut, dia mengunakan kegeniusan pikirannya untuk memikirkan fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Akhirnya dia pun mendapatkan kebenaran agama yang diharapkannya, dan sampai sekarang kebenaran agama tersebut masih dirasakan oleh umat di seluruh dunia, khususnya umat Islam. Artinya Ibrahim dengan kegeniusan pikiranya, dia tidak menjadi orang yang radikalis, liberalis. Akan tetapi dia selalu menyandarkan kemampuanya pada Dzat yang maha penguasa, sehingga berkat usahanya tersebut, Tuhan pun memberikan kebenaran agama yang diharapkanya.
 
Cerita tersebut memberikan gambaran kepada kita, bahwa ditengah-tengah kedzaliman agama dimasa itu, Tuhan sebenarnya masih menghendaki kebaikan. Dan kehendak Tuhan tersebut, diwujudkan melalui pencariaan kebenaran yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. Meskipun hal itu didahului dengan kejelekan, kedzaliman penguasa, dotrin agama yang salah.
     
Dan dalam perjalanan kenabiannya, kita tahu Nabi Ibrahim juga diuji oleh Allah dengan diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri yaitu Nabi Ismail.  Sedangkan saat itu adalah waktu yang dinanti-nanti Nabi Ibrahim setelah lama tidak mempunyai keturunan. Ujian yang seperti itu membuat nabi ibrahim bingung, karena harus menentukan pilihannya. Apakah Nabi Ibrahim harus mengorbankan anak tercintanya sebagai bukti taat pada Allah?, atau Nabi Ibrahim mendurhakai Allah demi cintanya pada sang anak. Keadaan yang membingungkan seperti itu, Nabi Ibrahim berinisiataif memintak pertimbangan kepada anaknya, bagaimana pendapat sang anak terhadap ujian yang resikonya sangat besar tersebut. Dengan tegas Nabi Ismail menjawab "kalau itu benar-benar perintah Allah, maka laksanakanlah aku akan mentaatinya". Tanpa ragu lagi ahirnya perintah tersebut dilaksanakan dengan ikhlas oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ismail disembelih oleh ayahnya sendiri, tetapi ditengah-tengah proses penyembelihan tersebut, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba bagus yang sampai sekarang dijadikan tafa'ul korban pada hari raya idul adha oleh umat Islam di seluruh dunia. Suatu ujian besar yang sulit dibayangkan jalan keluarnya, apalagi bagi orang yang "setengah-setengah" dalam beriman pada Allah SWT. Akan tetapi ujian tersebut dapat diatasi dengan mudah oleh Nabi Ibrahim a.s.

Kisah tersebut membuktikan kepada kita, meskipun perintah Allah pada awalnya berimplikasi jelek -akan mencelakakan Ismail dan mengecewakan Ibrahim-, akan tetapi pada akhirnya Allah SWT memberikan kebaikan yang tak ternilai kepada Nabi Ibrahim dan anak turunnya dibalik ujian tersebut. Hasil dari pencarian kebenaran agama yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dijadikan panutan seluruh manusia di dunia, terutama umat Islam.  Dan seleuruh anak turun Nabi Ibrahim yang taat diangkat derajatnya oleh Allah dengan menjadi pemimpin umat. Sebuah anugrah yang berawal dari ujian dan cobaan yang sangat berat. Hal itu membuktikan bahwa sebenarnya ketika Tuhan memberikan kejelekan, musibah dan ujian pada kita, maka dibalik itu semua kita harus yakin bahwa Tuhan akan menggantinya dengan kebaikan yang tak ternilai harganya.

Hanya dengan "Menengok"
Dalam al-Qur'an Allah berfirman "ingatlah kalian kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian". Kata ingatlah didalam firman Allah tersebut sangat universal, artinya Allah tidak menentukan bagaimana cara kita untuk selalu ingat keada-Nya. Disitu menunjukkan bahwa untuk ingat kepada Allah, tidak hanya dengan salat saja, tetapi dengan banyak cara dan dalam keadaan bagaimanapun asalkan kita bisa benar-benar ingat kepda-Nya. Tidak hanya ketika kita mendapatkan musibah, tetapi ketika mendapatkan nikmat kita pun harus menyempatkan diri untuk mengingat-Nya. Jika kita mau melakukan itu, maka Tuhan pun akan selalu ingat kepada kita.  

Di era sekarang ini, orang sering beraggapan bahwa materi adalah segalanya dalam hidup, sehingga mereka melupakan bahwa dibalik segala bentuk kemajuan sains maupun teknologi adalah kehendak Allah SWT. Aggapan tersebut berimpilikasi pada gaya hidup mereka yang seakan-akan mereka hidup selamanya. Mereka tidak pernah ingat bahwa kapan pun dan dimana pun, Tuhan bisa dengan mudah mengambil nyawa mereka. Hal itu jika dibiarkan berkembang, maka akan berakibat turunya murka Tuhan. Dan itu pun tergambar pada beberapa kejadian yang terjadi pada bangsa ini, bangsa semakin dibelit dengan hutang luar negeri, korupsi yang targetnya ditumpas pemerintah, malah menjadi hal yang melembaga. Artinya boleh bangga atas segala bentuk perbaikan, kemajuan sains dan tehnologi dapat kita capai, tetapi sesibuk dan sehebat bagaimanapun, kita pun harus bisa menyempatkan diri untuk selalu ingat kepada dzat yang maha diatas segalanya yaitu Allah SWT.                    

Musibah yang menimpah bangsa ini, mulai dari kecelakaan besar yang menelan puluhan nyawa, becana alam gempa, dan tsunami yang tidak hanya menelan korban harta benda, tetapi juga ribuan nyawa melayang dengan sia-sia. Kalau kita mau belajar dari cerita Nabi Ibrahim tersebut di atas, dia bahkan mendapatkan ujian yang lebih berat dari pada musibah yang menimpah mereka. Tidak hanya harus kehilangan anak kesayanganya, tetapi dia juga harus melawan kedzaliman penguasa tanpa ada bantun dari siapa pun demi menegakkan kebenaran Ilahi. Maka kita tidak akan mudah berputus asa, bahkan akan mendapatkan banyak hikmah dari musibah tersebut. Karena pada hakikatnya musibah tersebut adalah sebagai pengingat bagi kita bahwa diatas bumi masih ada langit, dan diatas langit masih ada langit-langit yang lainnya. Artinya kita tidak boleh melupakan bahwa Tuhan adalah dzat yang maha kuasa diatas segalanya. Teknologi yang cangkih, insiyur yang superior, konstruksi yang kuat, semuanya adalah tidak berguna apabila takdir Tuhan sudah berbicara. Dan pada hakikatnya bukan berarti Tuhan menghendaki kejelekan dengan musibah tersebut, tetapi kita harus yakin bahwa Tuhan akan menggantinya dengan hal yang lebih baik lagi, atau bahkan dibalik musibah tersebut menyimpan rahasia kebangkitan bangsa ini. Semuanya itu adalah rahasia tuhan, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang dikehendakinya.

Al-hasil, segala macam bentuk kejelekan, musibah dan ujian yang kita terima sebenarnya adalah karena perbuatan kita sendiri. Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa "Segala bentuk kerusakan di daratan dan lautan semuanya adalah kerena perbuatan manusia". Meskipun demikian kita pun harus ingat bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, Dia akan mengganti kerusakan tersebut dengan hal yang lebih baik lagi. Oleh sebab itu kita pun tidak boleh putus asa atas Rahmat yang akan diberikan oleh Tuhan kepada mahluk-Nya, termasuk kita. Sekarang bangsa ini telah dililit musibah, hutang luar negeri, dan persolan internal lainya, tetapi kita harus yakin bahwa keadaan ini tidak akan selamanya tetap, "roda pasti berputar". Asalkan kita bisa benar-benar selalu ingat dan mendekatkan diri kepada-Nya.  

Begitu pula segala bentuk kebaikan, kemajuan dan keberhasilan yang kita capai bersama, kita pun harus dapat menyandarkan semuanya itu pada Tuhan. Kita harus ingat bahwa semua itu adalah berkat rahmat dan inayah-Nya. Kita hanya seorang hamba yang dijadikan "kaki tangan" Tuhan. Apapun dan bagaimanapun kehendak Tuhan kita harus melakukannya.
        
* Mahasiswa Pasca Sarjana, PEP UNJ, Ketua PKC PMII DKI Jakarta
 

Tulis komentar


Kode anti spam
Klik untuk menampilkan kode baru

Fiddini Collection

Mutiara Hikmah

Pembina P3SN

 

Iklan Anda

 

 

Data kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterSekarang70
mod_vvisit_counterKemarin56
mod_vvisit_counterSeminggu307
mod_vvisit_counterMinggu Lalu535
mod_vvisit_counterSebulan510
mod_vvisit_counterBulan Lalu1597
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan40179

We have: 3 guests online
IP Anda: 38.107.179.207
 , 
Today: Peb 08, 2012

Sekretariat

Jl. Mesjid At-Taqwa RT 02/RW 08

Kelurahan Kembangan Utara Kecamatan Kembangan

Kotamadya Jakarta Barat

Telp. 02191523905, 02191287015, 081388705094

Poling

Sejauh mana kemandirian pesantren sampai sekarang?