CATATAN LAPANGAN P3SN
PAHLAWAN KEBERSIHAN KAMPUNG JATI BEKASI
(MEREKA BUTUH PERHATIAN & PENDIDIKAN)
Sabtu, 24/04/2010, Team memulai kegiatan dengan brainstorming terkait data yang akan dieksplorasi dari para sumber data. Pada perjalanan menuju ke lokasi sumber data kami menyaksikan beberapa pemandangan desa yang sudah mulai terkoyak keasliaanya dengan pembangunan perumahan.
Menuju lokasi dengan arak-arakan kendaraan kelompok peneliti (4 motor), sekeliling jalan adalah lahan-lahan kosong yang setiap + 20 meter baru kami jumpai rumah. Menjelang masuk ke lokasi pembungan sampah (Kampong Jati, Desa Burangken, Kec, Setu, kab, Bekasi), kami menyaksikan kantor lurah yang terlihat lengah karena aparatnya libur. Berjejer dengan lokasi kelurahan berdiri kokoh bangunan SDN Burangkeng, terlintas dalam pikiran peneliti “wah ternyata para pemulung juga masih ada perhatian terhadap pendidikan anaknya”. Menskipun terlihat sepi SDN tersenbut, membuat rasa penasaran untuk lebih jauh menggali informasi soal eksistensi dan dukungan masyarakat terhadap sekolah tersebut.
Perjalanan berlanjut pada lokasi pembungan sampah (+ 50 M), mendekati pintu masuk lokasi kami menyaksikan mobil truk kuning yang berjejer di sepanjang jalan untuk antri menumpahkan isi sampah. Dengan bau busuk yang menyengat dari gunungan sampah, kami menyaksikan warga yang menikmati aktifitas mengambil sampah yang memiliki nilai jual, masih bisa didaur ulang, bahkan dimanfaatkan untuk sekedar melengkapi keutuhan bangunan rumah. Terlintas dalam pikiran peneliti “luar biasa usaha yang dilakukan para pemulung ini, secara tidak langsung mereka telah berperan dalam menciptakan kebersihan lingkungan masayarakat kota, kesehatan, bahkan mereka turut memenuhi bahan baku industri plastic, biji besi, dll”.
Melintas di tengah-tengah dua gunungan sampah, kami menuju ke rumah salah satu pak RT di kapung Jati yang lokasinya relatif lebih dekat dengan pembungan sampah. Sayangnya pak RT sedang bekerja ke sawah, tapi bagi kami itu bukan kendala untuk terus menggali lebih jauh soal aktifitas pemulung di sini, terutama terkait bagaimana perhatian mareka terhadap nasib masa depan penddikan anaknya. sekilas kami melihat rumah pak RT dan masyarakat di sekitarnya adalah rumah suasa desa, sedikit kumu tapi tetapa ada suasa asri, dikelilingi hamparan sawah yang masih belum banyak digarap secara maksimal oleh warga sekitar, maklum kebanyakan sawah-sawah itu bukan milik mereka sendiri, mereka hanya berhak menggarap, dan bagi hasil dengan pemiliknya. Dari sini mulai kami jumpai informan yang cukup dijadikan data observasi awal pada lokasi penelitian.
Informan I; Ibu A (deket rumah pak RT)
Dengan ramah ibu itu menyapa kami “nyari pak RT ya.. orangnya lagi ke timbangan , istrinya ke sawah belakang itu loh… apa perlu saya panggilkan??..” diantara kami ada yang menjawab “tidak perlu bu… kami kemarin sebenernya sudah kemari, ini cuman pengen ngobrol-ngobrol aja di sini, terkait aktifitas masyarakat di sekitar sini, jadi kan… harus ini ke pak RT dulu..begitu bu..”.
Secara gamblang ibu ini menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat di sini bekerja sebagai pemulung, dan bertani dengan menggarap sawah yang bukan miliknya sendiri. Meraka lebih menikmati hasil memilah sampah dari harus bekerja di sawah, bahkan banyak sawah yang dimiliki oleh warga dijual pada borjuis kota, atau sekedar digadaiakan, sehingga mereka hanya sebagai penggarap saja, dengan akad bagi hasil. Lebih lanjut ibu itu menjelaskan soal pendidikan anak-anak yang ada di lingkungannya, memulai dari keluarganya sendiri beliau menuturkan ‘kalau anak saya semuanya sekolah, saya punya 4 anak semuanya sekolah, yang pertama sudah kelas 3 SMP, ada yang masih SD, tapi belum ada yang kuliah”. Memang sebagian kecil juga ada yang tidak sekolah, mereka lebih menikmati membantu orang tuanya memilah sampah, atau bercocok tanam di sawah”. Sambil kami menyaksikan lalu lalang anak kecil (umur 4 th), yang dalam pikiran peneliti “anak ini kotor banget, gak ada yang memperhatikan, lari-lari, jalan-jalan di sekitar kami”, tidak lama kemudian Ibu itu menjelaskan “ini anak pak RT.. biasa suka main-main belum waktunya sekolah, biasanya anak di sekolah ketika usia sudah mencapai 6 tahun”.
Sekilas ibu A menjelaskan sebelum kami diajak ke rumahnya hasil mengumpulkan sampah sangat berfariatif ada yang sehari dapat 30 rb, ada yang 70 s.d 100 rb. Kami diajak dipojok rumahnya, diperlihatkan tumpukan limbah berdaya guna yang sudah dipilah-pilah berdasarkan jenis dan harga jualnya. Mulai dari kisaran harga 400 perak/kg sampai 2500/kg, mulai dari limbah plastic, mainan anak, dan tembaga lampu neon dari berbagai merek.
Rumah yang tidak layak huni, tapi dalam pandangan pemiliknya adalah “rumahku adalah surgaku” tergambar jelas bagaimana mereka menikmati kehidupan dan kondisi tempat tinggalnya. Di sela-sela semak belukar, di bawah rimbunnya pohon bambu dan hijaunya pohon belinjo, kami menyaksikan hamparam sawah yang ditumbuhi padi yang sudah siap panen, tapi ironis kondisi itu tidak mendorong mereka untuk memilki dan menggarap sawah. “mereka kerja sawahnya hanya sampingan, lebih menikmati kerja di penimbangan” tandas ibu, dengan malu-malu menutupi pahanya dengan sehelai kain, dengan baju yang kusut, tampak bercak-bercak merah pada kulit badannya. “mungkin meraka sudah tidak sempat lagi memikirkan kesehatan badannya, untuk bertahan hidup saja bagi mereka sudah cukup.
Lantas bagaiman perhatian pemerintah soal kondisi ini, bagaimana pemerintah memikirkan kesejahteraan mereka, kesehatan mereka, dana konpensasi dari dampak pembuangan sampag di lokasi mereka, yang sudah pasti sarang tumbuhnya penyakit, lokasi semakin kumuh, jalan menjadi rusak, becek, akibat lalu lalang mobil truk sampah. Pandangan Pak RT pada pertemuan sebelumnya, penyataan ibu A, “pemerintah hanya datang ketika ada kepentingan tertentu, hanya kampanye, hanya ingin suara dari kita untuk pemenangan tertentu”. Bahkan pada kondisi tertentu Pemda sering kunjungan mendadak, tapi tidak sampai menyentuh ke pelosok warga pedalaman, Pemda menganggap semua persoalan warga sudah beres, hanya berdasarkan informasi petugas lapangannya.
Perjalanan observasi kami lanjutkan ke lokasi lain, sempet terhinggap di tengah-tengah hamparan kebun, kenapa mereka tidak berkebun saja. Bagi kami ini adalah soal budaya, motivasi untuk berkembang, minimnya akses pengetahuan dan informasi.
Bersambung Cacatan II
- 02/04/2011 17:11 - Fungsi Perpustakaan dalam Pendidikan
- 08/12/2010 12:38 - UNJUK KERJA PENDIDIKAN ALTERNATIF; STUDY PENILAIAN PEMBALAJARAN TUNTAS DI PESANTREN SALAF
- 19/07/2010 07:54 - USAHA PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN
- 02/06/2010 05:44 - Menjaga Kesadaran Jiwa
- 04/03/2009 09:36 - Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
- 04/03/2009 09:36 - TIK dalam Pendidikan
- 04/03/2009 09:35 - Mencari Pendidikan Bekwalitas
- 04/03/2009 09:35 - Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran




















