• Daftar
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Mealist

Ingin tau tlebih cepat mengetahui perkembangan agenda yang akan kami laksanakan? Masukkan nama dan email anda yang masih aktif
Interpreanership



Mei 2012
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

You are here: Home Wawasan Islam Seputar Pendidikan Fungsi Perpustakaan dalam Pendidikan

Fungsi Perpustakaan dalam Pendidikan

Email Cetak PDF
Fungsi Perpustakaan dalam Pendidikan*)
Oleh:
Mochtar Buchori**)

Catatan:  Saya tidak mengikuti secara  saksama  perkembangan perpustakaan sekolah atau perpustakaan Perguruan Tinggi kita. Oleh karenanya dalam makalah ini saya tidak akan menguraikan permasalahannya berdasarkan fakta-fakta. Saya akan menguraikan persoalannya berdasarkan kesan-kesan yang saya peroleh dari  pengalaman pribadi yang cukup panjang. Dan berdasarkan  pengalaman ini saya berpendapat, bahwa faktor yang paling penting dalam stagnasi perkembangan perpustakaan pendidikan kita selama in ialah sikap bangsa kita terhadap kegiatan belajar itu sendiri.  Selama kita masih memandang pendidikan sekolah sebagai suatu kegiatan untuk menyampaikan kepada generasi muda suatu stock of static knowledge, selama itu pula kita akan terjebak dalam situasi pendidikan yang lebih banyak membelenggu pikiran dan daya khayal kita, daripada membebaskannya untuk mengadakan eksplorasi secara bebas dalam dunia virtual yang sangat kaya, yang terdapat dalam perpustakaan,
 
Pengantar
Dalam sistem pendidikan yang dewasa dan sehat perpustakaan selalu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan pendidikan. Tidak dapat dibayangkan, bahwa dalam sistem pendidikan seperti ini ada sekolah yang tidak memiliki perpustakaan sama sekali. Juga tidak terbayangkan adanya suatu Perguruan Tinggi yang tidak memiliki perpustakaan, atau yang perpustakaannya sunyi-sepi bagaikan kota hantu, karena baik para mahasiswa mau pun para pengajarnya tidak memiliki cukup waktu untuk datang  ke perpustakaan dan mencoba mengetahui, apa saja yang dapat mereka pelajari dari materi yang terkumpulkan dalam perpustakaan. .
Dalam limgkungan pendidikan yang dewasa dan sehat di samping perpustakaan sekolah juga terdapat perpustakaan pribadi yang dibangun oleh setiap guru, dosen, dan guru besar yang benar-benar memandang tugas mereka sebagai suatu profesi. Dan di antara murid-murid dan mahasiswa yang sudah dewasa dan selalu merasa haus akan pengetahuan baru juga dapat dijumpai mereka yang memiliki perpustakaan pribadi, meskipun dalam ukuran yang sangat mini. Dan mereka ini pada umumnya merasa bangga dengan koleksi buku atau majalah yang mereka miliki.

Perpustakaan Sebagai Sumber Pengetahuan dan Sumber Inspirasi
Apa artinya semua ini ?
Ialah, bahwa dalam masyarakat seperti ini perpustakaan dipandang sebagai sumber ilmu, sumber pengetahuan, dan sumber kearifan tentang hidup dan kehidupan. Hidup sepanjang masa selalu menghadapkan manusia kepada permasalahan-permasalahan pelik yang tidak mudah diselesaikan. Untuk menyelesaikan masalah-masalah seperti ini, pada mulanya manusia bertanya kepada sesama manusia mengenai cara-cara yang sebaiknya ditempuh untuk mengatasi masalah-masalah pelik tadi. Dan ketika pengetahuan manusia semakin bertambah dan semakin maju, manusia “bertanya” kepada buku untuk menemukan jawaban terhadap persoalan-persoalan sulit yang mereka hadapi.
Dalam sistem pendidikan yang dewasa dan sehat, kehadiran perpustakaan didorong oleh kesadaran, bahwa guru-guru atau pendidik-pendidik tidak mungkin menguasai segenap pengetahuan dan kearifan yang harus disediakan bagi para siswa untuk mendorong mereka  memperbaharui khasanah budaya yang mereka warisi. Kebutuhan lembaga pendidikan akan perpustakaan makin terasa ketika ilmu dan pengetahuan  tumbuh dan berkembang dengan cepat. Maka perpustakaan pendidikan (educational library) pun berkembang dengan pesat sesuai dengan tingkat kesadaran pengelola lembaga pendidikan akan besarnya makna perpustakaan bagi pendidikan yang ingin mereka selenggarakan. Penyelenggara pendidikan yang ingin menyajikan pendidikan yang bermutu berusaha menyisihkan dana yang memadai untuk melengkapi perpustakaan sekolah atau lembaga pendidikan lainnya yang mereka asuh. Pada waktu yang bersamaan perpustakaan sekolah mulai diperhatikan masyarakat sebagai suatu indikator terpercaya mengenai mutu sekolah atau lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan dengan perpustkaan yang baik –lengkap dan mutakhir—dianggap pasti mampu menyajikan pendidikan yang bermutu. Sebaliknya, lembaga pendidikan yang tidak memiliki perpustakaannya sendiri akan dipandang sebagai suatu lembaga pendidikan yang tidak bermutu.
Ini berarti,  bahwa dalam setiap lembaga pendidikan yang dewasa dan sehat selalu tersedia dana yang memadai untuk akwisisi (acquisition) buku-buku yang memuat informasi mutakhir serta relevant tentang persoalan-persoalan yang terdapat dalam kehidupan manusia. Koleksi  informasi mengenai persoalan-persoalan kemanusian ini tidak terbatas pada persoalan-persoalan yang terdapart di negeri sendiri, tetapi yang terdapat juga di negara-negara lain. Melalui akwisisi-akwisisi seperti ini masyarakat yang gemar belajar menjadi sadar akan persoalah-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, dan juga akan usaha-usaha yang telah dan sedang dilakukan manusia –baik yang berhasil, maupun yang gagal—untuk “menaklukkan” masalah-masalah yang sedang dihadapi.    
Dalam masyarakat dengan sistem pendidikan yang dewasa dan sehat tidak pernah ada kampanye untuk mengharamkan buku tertentu. Orang boleh setuju atau tidak setuju dengan suatu buku. Orang boleh mendiskusikannya, dan menyampaikan pendapat masing-masing melalui suatu polemik yang sehat. Tetapi melarang terbitnya dan beredarnya suatu buku tidak pernah dilakukan. Dan dalam sistem pendidikan seperti ini tidak pernah terjadi peristiwa pembakaran buku yang diprakarsai oleh pimpinan sekolah atau sekelompok siswa yang menganut suatu ideologi secara fanatik. Dalam masyarakat yang dewasa dan sehat ini buku dan perpustakaan merupakan “wilayah suci” yang tidak boleh dinodai oleh politik atau oleh perdagangan buku.
   Dalam sistem pendidikan yang dewasa dan sehat pustakawan tidak diperlakukan sebagai penjaga buku. Mereka adalah penjaga pengetahuan dan kearifan. They are the guardians of knowledge and wisdom. Jadi dalam masyarakat seperti ini pengelola negara serta penjaga masyarakat tidak akan pergi ke “orang pintar” untuk mendapatkan petunjuk mengenai cara terbaik untuk menyelesaikan suatu persoalan rumit. Mereka akan pergi ke perpusakaan, dan minta bantuan pustakawan untuk mendapatkan informasi-informasi yang relevant, sahih, dan akurat mengenai persoalan-persoalan penting yang dihadapi negara dan masyarakat.
    Akibat dari situasi seperti ini pendidikan dalam masyarakat yang dewsa dan sehat bersifat cair (fluid), tidak beku. Substansi yang paling “kental”-pun disampaikan secara cair dan mengalir, tidak dogmatis. Puncak dari suasana pendidikan yang dewasa dan sehat ini ialah lahirnya apa yang disebut academic culture, yaitu suatu trilogi prinsip yang mencerminkan semangat mencari kebenaran secara terus-menerus. Trilogi ini ialah

•    The continuous search for new knowledge;
•    The continuous search for truth. And
•    The continuous defense of the body knowledge against falsification.

Berdasarkan semangat  academic culture ini plagiat (mencuri gagasan atau ideas lewat penjiplakan teks) dipandang sebagai suatu aib yang tidak boleh terjadi pada setiap lembaga pendidikan yang mempunyai harga diri.    
   
Keadaan di Indonesia Dewasa Ini  
    Bagaimana keadaan di Indonesia dewasa ini? Mana yang lebih sering dijumpai: Sekolah tanpa perpustakaan atau sekolah dengan perpustakaan yang lengkap dan mutakhir? Mana yang lebih sering kita saksikan: Perpustakaan yang remai dikunjungi oleh tenaga pengajar dan siswa, atau perpustakaan yang hanya dikunjungi siswa saja, atau perpustakaan yang sepi bagaikan kota hantu tadi? Dan mana yang lebih sering kita jumpai: Perpustakaan yang bersuasana segar, penuh vitalitas, dan membangkitkan rasa percaya diri, atau perpustakaan yang bersuasana lesu, tarasa tua, dan menyebabkan pengunjung merasa lekas capai?
    Saya tidak tahu, bagimana tepatnya situasi perpustakaan yang terdapat di lembaga-lembaga pendidikan kita dewasa ini. Namun berdasarkan berbagai keluhan yang tersebar luas di masyarakat, dapat agaknya di simpulkan, bahwa situasi yang ada sekarang ini tidak terlalu menggembirakan. Bahkan di banyak lembaga pendidikan mungkin situasinya dapat dikatakan menyedihkan.
Mengapa hal ini sampai terjadi?
Saya tidak tahu betul. Tetapi ketika saya masih anak-anak dahulu dan bersekolah di suatu “sekolah pribumi kelas dua” (Tweede Inlandsche School), terdapat perpusakaan yang sangat sederhana. Hanya sebuah lemari yang diletakkan di sudut depan kelas IV. Dan “perpusakaan” ini hanya dibuka seminggu sekali, yaitu setiap hari Kamis. Pada hari itu murid-murid Kelas IV dan Kelas V boleh meminjam sebuah buku dan dibawa pulang untuk dibaca.
Meskipun perpusakaan ini sangat sederhana, tetapi bagi saya sebagai seorang anak desa arti perpusakaan ini sangat besar. Di perpusakaan ini lah saya mulai membaca  buku-buku tentang kehidupan manusia di negara lain, bahkan kehidupan manusia di negeri khayalan. Di perpustkaan inilah saya membaca cerita tentang Gulliver, tentang Tarzan, tentang Tom Sawyer. Imajinasi saya sangat terangsang oleh bacaan-bacaan ini. Dan mulailah timbul cita-cita yang tidak lazim untuk seorang anak desa dalam diri saya pada waktu itu. Saya ingin melihat negeri-negeri lain. Saya ingin menguasai bahasa-bahasa lain di samping bahasa ibu saya,yaitu Bahasa Jawa gaya Yogyakarta. Saya ingin jadi guru, karena dalam pandangan saya pada waktu itu guru adalah manusia terpelajar. Setidak-tidaknya demikian halnya dalam sebuah desa ibukota kecamatan pada waktu itu.
Dan ketika saya telah tamat dari sekolah desa tersebut saya dimasukkan ke sebuah Schakelschool Muhammadiyah di Yogyakarta oleh ayah saya. Sekolah ini tidak mempunyai perpusakaan sekolah. Anak-anak yang ingin membaca buku-buku di luar buku wajib harus meminjamnya dari sebuah perpustakaan umum (public library) yang juga dimiliki oleh seorang Muhammadiyah. Tetapi di sini meminjam buku harus membayar. Tidak adanya perpustakaan di sekolah ini membuat suasana sekolah jadi kurang “intelektual” dalam perasaan saya. Saya menjadi merasa bosan di sekolah ini. Hanya karena ada seorang guru yang sangat saya kagumi saya bertahan di sekolah ini. Guru ini memiliki perpustakaan pribadi yang nampaknya cukup lengkap, karena setiap kali dia dapat berceritera tentang hal-hal yang menarik di luar materi yang terdapat dalam mata pelajaran yang resmi.
Pada waktu saya mulai mengikuti kuliah-kuliah tentang pedagogiek di Bandung, perpustakaan sekolah sangat minim dan terasa kuno. Jadi mulailah saya dengan gajih yang terbatas membeli buku-buku untuk koleksi pribadi saya. Di samping buku-buku untuk kuliah, saya kumulkan buku-buku untuk pengetahuan umum, untuk bahasa Inggris, dan untuk Bahasa Belanda. Seringkali saya pergi ke tukang loak untuk membeli buku-buku bekas. Kehadiran buku-buku ini di kamar tempat saya in de kost mengurangi kesepian hidup saya sebagai seorang yang sedang belajar sambil bekerja, dan mulai menginginkan kehadiran seorang teman hidup yang dapat saya ajak bicara tentang temuan-temuan yang saya dapatkan dalam buku-buku saya. Dan ketika di tengah-tengah dosen-dosen Belanda hadir seorang dosen dari Russia putih yang mengajarkan anthropologi semangat saya untuk mempunyai perpusakaan saya sendiri makin menggebu-gebu.

Hipotesis Tentang Pasang-Surut kehidupan Perpustakaan Pendidikan
Berdaarkan pengalaman pribadi ini dugaan saya ialah bahwa di zaman kolonial perpustakaan sekolah sudah ada secara embryonik di sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta yang baik. Tetapi di sekolah-sekolah yang oleh Pemerintah Hindia Belanda disebut sebagai “sekolah liar” (wilde scholen) perpustakaan sekolah merupakan suatu hal yang sangat langka. Dalam ketiadaan perpusakaan sekolah ini suasana belajar dan mutu pelajaran lalu bergantung kepada ada-tidaknya guru yang memiliki perpustakaan pribadi. Ini berarti, bahwa mutu pendidikan di sekolah lalu ditentukan oleh  banyak-sedikitnya guru yang memiliki “semangat akademik” yang memadai. Kalau guru dengan “semangat akademik” ini di  sekolah merupakan mayoritas, maka pada umumnya dapat dikatakan, bahwa mutu pendidikan cukup baik. Tetapi kalau mayoritas guru adalah guru yang tidak memiliki “semangat akademik” maka yang terjadi ialah berlangsungnya suatu proses pendidikan yang tidak bermutu, suatu proses pendidikan yang tidak membimbing murid untuk menatap masa depan mereka dengan saksama dan optimisme yang realistik. Pada waktunya lalu lahirlah generasi yang tidak memiliki elan pembaharuan. Lalu lahirlah generasi yang bersikap passif dan masa bodoh terhadap masa depan.
Ini sekedar hipotesis saya. Lalu bagimana hubungannya dengan kesemrawutan dalam pendidikan yang ada sekarang ini?
Kalau suatu sistem pendidikan mengabaikan terpeliharanya suasana pendidikan yang dewasa dan sehat selama beberapa generasi, maka yang terjadi ialah bahwa generasi guru-guru dan generasi pengelola pendidikan yang lahir kemudian adalah generasi yang penuh dengan mediokritas. Suatu sistem pendidikan yang dikelola oleh generasi yang mediocre –generasi yang “setengah matang”—beragnsur-angsur akan kehilangan semangat ademiknya. Mungkin benar pepatah Inggris yang mengatakan, bahwa

•    “If you learn from a teacher who always reads, it is like drinking from a fountain of fresh water;
•    “But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking from a stagnant pool of water.”
 
Kalau kata-kata bersayap ini kita artikan secara harfiah, maka dapat dipahami, mengapa generasi muda menjadi “setengah mateng” setelah sekian lama harus minum dari air comberan.

Ciri-Ciri Kehidupan Kita Dewasa Ini
    Jadi apa yang salah dengan kehidupan pendidikan kita dewasa ini?
    Pertama-tama yang salah ialah kurikulum yang terlampau sarat (overloaded). Dengan kurikulum yang sarat sekarang ini, murid tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan eksplorasi yang luas dalam rangka mengenal dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Di mana kekuatan saya? Di mana kelemahan saya? Apa yang terbaik untuk saya lakukan dalam hidup saya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, yaitu pertanyaan untuk mengetahui diri-sendiri sedalam-dalamnya tidak akan dapat terjawab dengan baik tanpa eksporasi diri yang cukup luas. Dan membengkakkan kurikulum menjadi begitu padat, sehingga murid tidak lagi mempunyai kesempatan untuk mengetahui, apa saja yang terdapat di luar kurikulum, merupakan suatu kebijakan yang mempersempit pandangan anak.
    Kesalahan kedua ialah, bahwa pendidikan sekolah terlampau menekankan pemupukan pengetahuan (accumulaion of knowledge). Pendidikan sekolah terlampau intelektualistik, dan tidak memberi ruang sama sekali kepada pendidikan untuk meningkatkan kepekaan perasaan terhadap nilai-nilai, baik nilai-nilai estetik, maupun nilai-nilai etis atau nilai-nilai synnoetis. Hasihya ialah lahirnya generasi yang kaya pengetahuan, tetapi gersang dalam kehidupan nilai. Ini merupakan suatu kesalahan yang fatal. Karena kegersanagan kehidupan nilai pada waktunya menimbulkan pudarnya sistem nilai kolektif dalam masyarakat. Dan karena sistem nilai merupakan sumber dari hati nurani (conscience), maka kegersangan dalam sistem nilai kolektif ini melahirkan pendangkalan dalam hati nurani generasi.  Dan lahirnya generasi yang tidak pernah merasa bersalah, tidak pernah merasa berdosa, tidak pernah bisa bertobat, adalah mala petaka bagi suatu bangsa.
    Kesalahan ini masih diperpayah oleh kenyataan, bahwa dalam pendidikan sekolah murid jarang dibimbing untuk memahami apa yang diketahuinya, apa yang dipelajarinya. Akibatnya mereka hanya hafal sejumlah pengetahuan belaka, tetapi tidak dapat menangkap makna yang terdapat dalam hal yang diketahuinya. Lalu timbullah apa yang disebut “meaningless knowledge” yang tidak artinya sama sekali bagi kehidupan. Dalam hidup hanyalah “meaningful knowledge”, hanyalah pengetahuan yang dipahami, pengetahuan yang diketahui maknanya, akan berguna. Kata orang Inggris, “Meningful knowledge is an intelletuaal tool, whereas meaningless knowledge is mere;y a burden.”
    Kesalahan ketiga ialah, bahwa peubahan sekolah dari lembaga pendidikan murni yang berwatak altruistik menjadi lembaga pendidikan yang berwatak industri telah berlangsung melampui batas. Menurut pendapat saya, “indusrialisasi” atau “komersialisasi” sekolah atau lembaga pendidikan lainnya seharusnya terbatas pada masalah-masalah manajemen. Interaksi pembelajaran yang berlangsung antara guru dan murid seyogianya tidak diwarnai oleh pertimbangan-pertimbangan yang berbau komersial. Kegiatan pembelajaran tidak seharusnya diperdagangkan. Intrusi komersialisme ke dalam wilayah pembelajaran ini telah mencemari kesucian proses pedagogis. Akibat yang cukup mengkhawatirkan dewasa ini ialah hilangnya idealisme dari kehidupan pendidikan. Pragmatisme telah dibiarkan memasuki terlampau dalam suatu wilayan kehidupan yang seharusnya dipenuhi dengan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat idealistik. Pragmsisme yang berlebihan telah menimbulkan sejenis vulgarisasi dalam kehidupan pedidikan kita.
Kesalahan keempat ialah, bahwa kebebasan pedagogis (pedagogische vrijheid) telah dirampas oleh penguasa dan organ-organ politik yang mendukungnya. Kebebasan pedagogis ialah kebebasan guru untuk menentukan sendiri tindakan pedagogis yang akan diambilnya dalam situasi pendidikan tertentu, tanpa ditakut-takuti oleh bayangan sanksi administratif dari birokrasi, atau sanksi organisatoris dari organisasi profesi. Setelah kebebasan pedagogis ini hilang dari kehidupan pendidikan selama beberapa waktu, orang mulai melupakannya, Kita lupa, bahwa dalam sistem pendidikan kita pernah hidup suatu tradisi yang bernama “kebebasan pedagogis”. Dan mereka yang masih ingat akan pernah adanya tradisi ini menjadi enggan atau takut untuk mengingatkan masyarakat tentang  perlunya menghidupkan kembali tradisi yang baik ini.
    Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan lain yang dapat dipaparkan. Tetapi cukup rasanya kalau kita menyadari, bahwa situasi di dunia pendidikan yang cukup menyedihkan ini ada sebab-musababnya, dan bahwa kita masih bisa memperbaiki situasi yang tidak membanggakan ini selama kita mengetahui genesis dari kemunduran kita di bidang pendidikan.

 Peranan Perpustakaan dalam Restorasi Pendidikan Nasional     
    Kewajiban untuk mengembalikan suasana dewasa dan sehat ke dalam sistem pendidikan kita pertama-tama merupakan tanggungjawab dari komunitas pendidikan, yaitu seluruh warga yang merasa, bahwa kita tidak dapat membiarkan dunia pendidikan terus-menerus ada dalam situasi sekarang ini. Komunitas pustakawan dapat bertindak sebagai pendamping dalam usaha nasional ini.
    Dilihat secara fundamental yang pertama-tama diperlukan pada saat ini untuk restorasi pendidikan ialah perubahan sikap terhadap belajar, perubahan sikap terhadap kehidupan akademik. Ini merupakan perubahan kultural yang harus dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat. Perlihatkan dengan jelas kepada masyarakat, bahwa pendidikan benar-benar merupakan hak dari setiap anak bangsa. Perlihakan dengan jelas, bahwa jasa pendidikan tidak diperdagangkan dalam negeri yang kita cintai ini.
Kemudian, langkah yang menurut saya penting untuk segera dilakukan ialah memperlihatkan kepada masyarakat, bahwa materi pendidikan yang disajikan disekolah kita ialah benar-benar hal yang relevant bagi kehidupan generasi muda di masa depan. Perlihatkan, bahwa pendidikan kita tidak menyajikan propaganda politik bagi kelompok mana pun. Kalau ada kepentingan politik yang harus dilayani melalui pendidikan nasional itu adalah kepentingan politik bangsa.   
    Perubahan berikutnya ialah peningkatan mutu guru. Ini merupakan suatu hal yang sampai sekarang masih ramai dibicarakan. Sepanjang yang saya ketahui, langah ini akan mencakup dua kebijakan, yaitu pertama sertifikasi sebagai “guru profesional” terhadap mereka yang sekarang sudah bekerja sebagai guru, tetapi dipandang belum “profesional”. Kebijakan ini diperkirakan akan membutuhkan waktu 20 (dua puluh) tahun. Kebijakan kedua ialah memperbaharui program pendidikan guru untuk garu-guru masa depan. Bagaimana tepatnya sifat pembahruan program pendidikan guru ini juga merupakan persoalan pedidikan yang masih ramai dibicarakan.
    Selanjutnya, langkah yang menurut saya juga perlu segera dilakukan untuk keperluan restorasi ini ialah perampingan kurkulum. Kurikulum yang sangat sarat yang ada sekarang ini perlu segera dirampingkan. Dengan adanya kebijakan pemerinah pusat untuk menyerahkan penyusunan kurikulum kepada petugas sekolah langkah perampingan kurikulum ini dapat segera dimulai. Dan dalam mengembangkan kurikulum yanglebih ramping ini perlu juga dipikirkan, bagaimana sistematik yang baiknya dipergunakan untuk menentukan apa yang disebut dengan “muatan lokal”. Sekarang ini cara menentukan “muatan lokal” berbeda dari daerah ke daerah. Menurut saya tujuan “muatan lokal” dalam kurikulum nasional ialah unuk memperkenalkan watak suatu daerah kepada para siswa.  
Segenap perubahan yang saya sebutkan ini perlu dipersiapkan dengan teliti. Tidak boleh tergesa-gesa. Diperlukan sejumlah informasi mendasar untuk mempersiapkan setiap perubahan yang saya sebutkan tadi. Barangkali dalam hal inilah komunitas pustakawan dapat mendampingi komunitas pendidikan.  
      Barangkali ada gunanya kalau saya sebutkan di sini, bahwa antara guru dengan pustakawan terdapat perbedaan yang cukup berarti. Biasanya para guru dilatih untuk membaca secara teliti. Dalam membaca setiap buku kebiasaan guru mulai dari Bab I
terus ke bab-bab berikutnya, sampai bab terakhir. Kebiasaan pustakawan –kalau saya tidak salah—ialah membaca flap jacket terlebih dahulu, lalu membaca introduction, dan terus ke Daftar Isi (Table of Contents). Sesudah itu baru bab-bab dibaca secara cepat, dan biasanya diambil saja bab-bab yang pokok. Yang bukan bab-bab pokok tidak akan dibaca. Dengan cara demikian dalam waktu yang singkat pusakawan dapa mengetahui jenis buku, maksud buku, dan sruktur buku.
    Jadi kerjasama yang dapat dijalin antara guru-guru dalam komuitas pendidikan dengan para pustakawan ialah dapat berupa penyusunan daftar bacaan yang harus di-scan  sebelum memulai suatu perubahan pendidikan. Pusakawan mempersiapkan daftar bacannya, dan para guru membaca setiap buku tadi dengan teliti. Pada gilirannya para guru menyampaikan pada anggota-anggota komunitas pendidikan lainnya mengenai esensi dari setiap perubahan yang akan dilakukan. Dengan demikian akan terbentuklah suatu komunitas pendidikan yang cukup luas, yang akan membicarakan setiap rencana perubahan untuk restorasi pendidikan secara cukup tuntas. Dengan persiapan seperti ini maka perubahan-perubahan yang akan dilakukan akan dapat memenuhi kepentingan berbagai pihak yang dilayani oleh suatu sistem pendidikan lokal.  

Penutup
    Demikianlah sedikit sumbangan yang dapat saya sampaikan untuk memahami persoalan-persoalan mendasar yang terdapat dalam pendidikan, dan yang salah satu dampaknya ialah proses pembodohan bangsa dan hilangnya watak bangsa.
    Masalah yang membelenggu kehidupan pendidikan kita sekarang ini terlampau besar dan terlampau kompleks untuk diselesaikan oleh para pendidik sendiri. Perlu ada kerjasama yang baik antara para pendidik dengan fungsionaris-fungsionaris sosial lainnya untuk mengangkat dengan segera dunia pendidikan kita dari kelumpuhan dan kebingungannya sekarang ini.
    Masyarakat pustakawan dapat membantu usaha restorasi pedidikan ini dengan menyediakan bacaan yang dapat memerluas pandangan cakrawala para pendidik. Kebiasaan para pendidik untuk hanya membaca buku-buku pendidikan telah meninggalkan suatu praduga yang sangat keliru, yaitu bahwa masalah pendidikan terletak dalam suatu wilayah problematik yang terisolasi dari wilayah-wilayah problematik lainnya. Atas dasar praduga yang keliru ini maka komunitas pendidikan cenderung menjadi eksklusif, cenderung menutup diri dari komunitas-komunitas lainnya, termasuk menutup diri dari pemikiran-pemikiran yang mereka pandang tidak cukup “teknis”, tidak cukup “profesional”.
    Semoga TEMU ILMIAH antara para pustakawan kali ini dapat merintis kerjasama yang produktif dan konstruktif anara para pendidik dan para pustakawan, demi lahirnya generasi baru Indonesia yang lebih berwatak, lebih bersih, dan lebih cakap.
    Semoga Tuhan selalu membimbing kita bersama dalam usaha kita bersama untuk menjaga masa depan bangsa.

Bogor, 21 Mei, 2007

Artikel yang berhubungan:
Artikel tebaru :
Artikel lama:

 

Tulis komentar


Kode anti spam
Klik untuk menampilkan kode baru

Fiddini Collection

Mutiara Hikmah

Pembina P3SN

 

Iklan Anda

 

 

Data kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterSekarang21
mod_vvisit_counterKemarin38
mod_vvisit_counterSeminggu59
mod_vvisit_counterMinggu Lalu494
mod_vvisit_counterSebulan1300
mod_vvisit_counterBulan Lalu2138
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan47344

We have: 2 guests online
IP Anda: 38.107.179.207
 , 
Today: Mei 21, 2012

Sekretariat

Jl. Mesjid At-Taqwa RT 02/RW 08

Kelurahan Kembangan Utara Kecamatan Kembangan

Kotamadya Jakarta Barat

Telp. 02191523905, 02191287015, 081388705094

Poling

Sejauh mana kemandirian pesantren sampai sekarang?