MEMBANGUN KARAKTER “MEMERDEKAN”
oleh; Aris Adi Leksono
Terdapat kesan yang mendalam dalam merayakan HUT RI ke-66 th tahun, itulah ungkapan yang dirasakan oleh beberapa teman saat berbincang santai sambil menunggu beduk maghrib. Lebih jauh penulis menyimpulkan dari obrolan santai tesebut makna kesan mendalam mereka; pertama, HUT Kemerdekaan kali ini berbarengan dengan bulan ramadhan seakan mengulang momentum 66 tahun lalu, saat bangsa ini diproklamirkan kemerdekaannya oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Kedua; kaum muslimin akan merayakan dua kali hari kemerdekaan dalam satu momen; hari kemerdekaan RI, dan hari kemerdekaan idul fitri setalah sebulan berpuasa.
Terlepas dari kesan mendalam tersebut, pertanyaannya apa yang bisa kita perbuat dengan momentum yang luar biasa ini? Apakah kita hanya dapat membaca dan mengenang sejarah, tanpa berbuat? atau sekedar memperingati moment ini dengan ceremonial upacara saja?. Sementara di luar sana banyak orang yang merasa “belum merdeka”, karena lemahnya ekonomi. Pada tataran Negara, kita masih “belum merdeka”, karena belenggu penjajahan para koruptor terhadap kekayaan bangsa ini yang membahayakan nasib generasi muda di masa yang akan datang. Pada moment yang kedua benarkah? kita layak disebut “pemenang atau merdeka”, dengan melewati bulan ramdhan dengan segudang amal indah dan rahmat lailatul qodar.
Lebih jauh tulisan ini akan mengupas apa yang harus dilakukan ke depan? dan apa spirit yang harus kita bangun dengan dua modal moment yang berharga tersebut, terlebih jika dikaitkan dengan penanaman karakter generasi mendatang. Terutama bagi insan Madrasah di lingkungan Kementerian Agama RI, yang jika ditilik secara historis dan materialis adalah salah satu pemilik nomenklatur kedua moment tersebut. Maka tidak ada kata lain kecuali kita harus bisa mengambil hikmah yang mendalam, terutama dalam praktek pendidikan di Madrasah.
Revitalisasi Pendidikan Karakter di Madrasah
Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk pada jenjang madrasah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.
Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di Madrasah perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di lingkungan madrasah, terlebih di lingkungan masyarakat peserta didik.
Karakter “Memerdekakan”; Lebih Bermanfaat Buat Orang Lain
Dalam beberapa perspektif, kemerdekaan memiliki banyak arti tergantung pada moment apa dia melekat. Pada moment HUT RI ke-66 misalnya; kemerdekaan diartikan terbebasnya bangsa Indonesia dari belenggu penjajah, Indonesia menjadi suatu Negara yang berdaulat, dan berhak mengatur pemerintahannya secara mandiri, tanpa intervensi dan tekanan dari Neraga colonial mana pun. Pada moment bulan Ramadhan; kemerdekaan adalah kemenangan yang diraih seorang hamba setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dengan baik dan benar, lahir dan batin, sesuai ajaran syariat dan hakikat, seorang hamba yang puasanya tidak sekedar menahan lapar dan dahaga saja, tetapi puasa yang benar-benar dapat mencapai dejarat “ketaqwaan” kepada Allah SWT.
Apapun arti kemerdekaan, disadari atau tidak, pastinya pada tahun ini kita telah melewati dua moment kemerdekaan tersebut. Artinya ini adalah moment sangat berharga yang tidak boleh dilewati begitu saja, terutama kita sebagai bangsa yang sedang “menafsirkan ulang makna kemerdekaannya” dan sebagai seorang hamba yang mendapatkan kewajiban berpuasa sebagai sarana memerdekakan diri dari “belenggu hawa nafsu hayawaniyyah”.
Memberikan warna baru pada kemerdekaan kali ini adalah dengan menggelorakan gerakan menumbuhkan karakter “memerdekakan” bagi generasi madrasah, artinya kalau sebelumnya kita merasa bangga dengan mengenang sejarah kemerdekaan, maka mulai hari ini kebanggaan itu harus lebih bermakna dengan menumbuhkan gerakan pembebasan kepada sesama dari kemiskinan, dengan lebih menumbuhkan sikap kepedulian sosial, memerdekan diri dan lingkungan dari kebodohan, dan terlebih memerdekakan bangsa ini dari belenggu penyelenggara Negara yang korup, imbasnya akan terjadi kahancuran bangsa secara sistematis dan berlahan.
Bukankah Rasul Muhammad SAW sudah menegaskan bahwa “sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain”. Termasuk “manfaat” itu adalah karakter memerdekakan orang lain dari segala macam masalah, segala kerisauhan hati, segala mala petaka yang mengancam diri, orang lain dan nasib bangsa ini ke depan. Memerdekakan itu, menghapuskan penjajahan kapitalisme, liberalism, dan neo-liberalisme dari bumi pertiwi ini, sehingga tumbuh kembali karakter kemenangan yang sesungguhnya ala bangsa Indonesia, menggelorakan kembali rasa gotong royong, tolong menolong antar sesama rakyat Indonesia.
Artikel lama:
- 02/04/2011 17:11 - Fungsi Perpustakaan dalam Pendidikan
- 22/12/2010 02:40 - Mempertegas Peran Madrasah Sebagai Pelopor Gerakan Indonesia yang Berkarakter
- 08/12/2010 12:38 - UNJUK KERJA PENDIDIKAN ALTERNATIF; STUDY PENILAIAN PEMBALAJARAN TUNTAS DI PESANTREN SALAF
- 19/07/2010 07:54 - USAHA PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENDIDIKAN
- 07/06/2010 11:48 - Penilaian Diri (Self Assesment) Dalam Pendidikan



















